Jumat, 06 November 2009

Pengembangan Kurikulum Kimia SMP

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dengan semakin berkembangnya zaman mengakibatkan tingkat kemampuan berfikir seseorang juga akan meningkat sehingga menyebabkan tingkat kebutuhan manusia semakin bermacam-macam. Jika dulunya seseorang puas dengan satu kebutuhan saja maka sekarang satu kebutuhan tersebut tidak menghasilkan kepuasan sehingga manusia menuntut hal-hal lain lagi yang belum dia dapatkan.
Meningkatnya kebutuhan manusia tersebut tidak hanya terjadi pada satu bidang melainkan di seluruh bidang yang ada dalam masyarakat. Begitu juga dengan bidang ilmu dan pendidikan hal ini karena semakin tinggi kebutuhan manusia diperlukan ilmu yang lebih tinggi pula sehingga dalam dunia pendidikan kurikulum yang lama tidak akan mampu memenuhi kebutuhan akan ilmu sesui kondisi zaman pada saat ini sehingga kurikulum harus senantiasa dilakukan pengembangan sesuai dengan perkembangan zaman saat ini dengan tujuan agar mutu pendidikan meningkat. Apalagi pembangunan harus didukung oleh perkembngan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mempercepat terwujudnya bangsa yang unggul dan tangguh. Dukungan iptek tersebut dimaksudkan untuk memacu pembangunan menuju terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju, dan sejahtera. Iptek sendiri berlangsung sangat cepat bersamaan dengan persaingan antar bangsa yang semakin ketat dan meluas sehingga diperlukan persiapan untuk bisa menguasai, mengembangkan dan memanfaatkan iptek supaya SDM yang dimiliki tinggi dan selalu meningkat.
Dengan adanya perubahan zaman yang sangat cepat tersebut mengakibatkan banyak masalah-masalah baru yang bermunculan sehingga dibutuhkan ilmu pengetahuan yang luas untuk mencari penyelesainnya untuk itu dengan tingginya mutu pendidikan dapat mengatasi masalah-masalah yang ada. Ilmu yang diperlukan saat ini tidak hanya bidang sosial maupun politik tetapi juga dalam bidang IPA karena perubahan zaman tersebut juga mengakibatkan berubahnya lingkungan alam sekitar.
Dalam mengenalkan ilmu pengetahuan yang baru terutama dalam bidang IPA harus dimulai sejak dini karena dilingkungan sekitar sudah berhubungan langsung dengan ilmu IPA terutama kimia karena semua makhluk tidak bisa terlepas dari kimia sebab semua materi yang ada di alam ini adalah kimia. Ilmu kimia tersebut harus dikenalkan pada anak-anak yang sudah mulai beranjak remaja karena pada masa usia segitu di harapkan siswa mulai mampu berfikir kritis dan ilmiah. Mengingat pentingnya ilmu kimia tersebut sebaiknya diketahui bagaimana kurikulum kimia serta pengembangannya untuk tingkat SMP dan bagaimana kenyataan yang terjadi dalam kehidupan nyata di Negara Indonesia.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengembangan kurikulum pada bidang studi kimia di tingkat SMP?
2. Bagaimana kesesuaian kurikulum yang diterapkan dalam proses pengajaran di Indonesia dalam kehidupan nyata?

Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
3. Untuk mengetahui pengembangan kurikulum pada bidang studi kimia di tingkat SMP?
4. Untuk mengetahui kesesuaian kurikulum yang diterapkan dalam proses pengajaran di Indonesia dalam kehidupan nyata?





BAB II
PEMBAHASAN


Pengembangan Kurikulum
Pengertian
Sebelum mengetahui pengertian pengembangan kurikulum sebaiknya dikenal dulu dengan yang namanya kurikulum.
Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin yaitu “curriculae” yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Menurut pengertian lama kurikulum adalah jangka waktu pendidikan yang ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijasah.(Oemar Hamalik,1995:16).
Namun seiring dengan berjalannya waktu pengertian kurikulum juga semakin berkembang bahkan ada bermacam-macam pengertian yang dapat dirumuskan antara lain pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.(Bab 1,pasal 1 butir 9).
Setelah mengetahui apa yang disebut dengan kurikulum selanjutnya akan dibahas tentang pengertian pengembangan kurikulum.
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum luas dan spesifik.(Oemar Hamalik,184:183)

Karakteristik dalam Pengembangan Kurikulum
Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik dalam pengembangan kurikulum diantaranya sebagai berikut:
a. rencana kurikulum harus dikembangkan dengan tujuan yang jelas;
b. suatu progam atau kegiatan yang dilaksanakan di sekolah merupakan bagian dari kurikulum;
c. rencana kurikulum yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik;
d. rencana kurikulum harus mengenalkan dan mendorong diversitas diantara para pelajar;
e. rencana kurikulum harus menyiapkan semua aspek situasi belajar mengajar;
f. rencana kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa pengguna.

Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional, kebutuhan pembangunan Nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan. Sedangkan pendidikan nasional itu sendiri berlandaskan pancasila dan UUD 1945.

Pengembangan Kurikulum Kimia SMP

Sebuah progam pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diharapkan jika direncanakan dengan baik. Untuk itu disetiap mata pelajaran harus mempunyai kurikulum bidang studi yang harus dirancang khusus untuk menghasilkan lulusan yang berkompeten. Kurikulum kimia SMP juga dirancang sebagai pembelajaran yang berkompetsi hal ini dikarenakan kimia kimia memegang peranan penting sebagai salah satu pengetahuan untuk memperkenalkan para peserta didik dengan benda-benda di sekelilingnya bahkan dengan dirinya sendiri karena semua yang ada di alam ini merupakan zat kimia baik alami ataupun sintetis. Untuk itu sekarang ilmu kimia mulai diperkenalkan kepada siswa tingkat SMP sehingga dengan begitu siswa akan mengenal kimia yang ada disekitarnya dan mampu mengklasifikasikan mana zat kimia yang berbahaya dan mana zat kimia yang tidak berbahaya. Pengembangan kurikulum kimia SMP merespon perkembangan informasi, ilmu pengetahua, dan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat pada masa sekarang ini.
Kimia merupakan salah satu aspek yang tergabung dalam bidang IPA yang mengkaji berbagai fenomena atau gejala baik makhluk hidup ataupun benda tak hidup yang ada di alam semesta. Untuk mengikuti perubahan zaman yang semakin modern ini Indonesia juga mengalami perubahan kurikulum yang terjadi berkali-kali. Pertama kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum 1974 kemudian berpengaruh terhadap kurikulum 1984 dan kurikulum 1994 selanjutnya berubah menjadi kurikulum 2004 atau yang biasa disebut KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) kemudian pada tahun 2006 KBK telah disempurnakan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) hingga sekarang ini.

Kurikulum 1974
Pendidikan di Indonesia sudah dimulai sejak masa proklamasi kemerdekaan atau tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. Sejak saat itu telah terjadi beberapa kali pembaharuan kurikulum mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah. Pembaharuan kurikulum tersebut dilakukan untuk membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Pada kurikulum ini IPA belum begitu diperhatikan dan bidang studi kimia pun belum ada di tingkat SMP hal ini karena masih penyesuaian dari sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintahan Belanda.

2. Kurikulum 1984
Kurikulum ini menggantikan kurikulum 1975 kurikulum ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan kerja industri pada masa itu. Pada kurikulum ini siswa dipersiapkan untuk kebutuhan kerja di industri. Pada kurikulum ini ilmu IPA juga belum diperhatikan apalagi untuk ilmu IPA murni hal ini karena pada masa ini ilmu ini dirasa belum diperlukan sehingga ilmu kimia pada saat ini juga belum diterapkan untuk anak SMP.


3. Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 berisi tentang kewenangan pengembangan yang seluruhnya berada ditangan pusat dan daerah sehingga sekolah tidak begitu terlibat, kemudian tidak terjadi penataan materi, jam pelajaran serta struktur program siswa hanya dianggap sebagai siswa yang harus menerima semua materi dan tanpa mempraktekannya. Pada kurikulum ini siswa sangat pasif, siswa hanya datang, duduk diam mendengarkan sehingga potensi siswapun kurang bisa dioptimalkan. Pada masa ini bidang studi kimia juga belum bisa direalisasikan pada tingkat SMP.
Kurikulum KBK
Perubahan kurikulum dari kurikulum 1994 menjadi kurikulum KBK ini karena mutu pendidikan di Indonesia kurang baik. Hal ini dapat terjadi karena pada kurikulum 1994 siswa hanya bersifat pasif, siswa tidak dapat menerapkan ilmu yang dia dapatkan karena sistem dalam kurikulum ini siswa hanya menghafal tanpa memahami isinya sehingga apa yang dia hafal juga akan mudah lupa. Oleh karena itu, dengan kurikulum KBK ini siswa dapat diharapkan bersifat aktif, mampu berfikir kritis dan kreatif. Pada kurikulum ini sekolah mendapatkan kewenangan dalam mengatur dan menyusun kurikulum di sekolahnya.
Pada kurikulum ini bidang studi kimia sudah mulai diterapkan pada tingkat SMP. Pada kurikulum ini mata pelajaran bidang IPA tingkat SMP yang meliputi fisika, biologi, dan kimia masih terpisah-pisah belum ada keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan yang lainnya dalam satu bidang IPA sehingga guru-guru yang mengajari masih berbeda-beda dari tiap bidang studinya.
Kurikulum KTSP
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) merupakan kurikulum lanjutan dari kurikulum KBK. KTSP bertujuan untuk menyempurnakan kurikulum KBK. Pada kurikulum ini prinsipnya hampir sama dengan kurikulum KBK. Pada kurikulum ini guru diberi kebebasan untuk mengembangkan kompetensi siswanya. Keberhasilan pendidikan akan tergantung pada sekolah dan guru yang menerapkan kurikulum tersebut dengan harapan dapat meningkatkan kualitas SDM.
Agar peserta didik SMP dapat mempelajari IPA dengan benar, mata pelajaran IPA di SMP hendaknya diajarkan secara utuh atau terpadu, tidak dipisah-pisahkan antara biologi, fisika, dan kimia. Misalnya pada bidang studi kimia dalam mengajarkannya harus dikaitkan dengan mata pelajaran fisika dan biologi.
Ketidak-utuhan konsep IPA dalam pembelajarannya secara psikologis dirasakan berat bagi peserta didik tingkat SMP. Pembelajaran IPA di SMP secara utuh akan mengajak peserta didiknya untuk mulai ke arah berpikir abstrak dengan mengenalkan IPA secara utuh dengan harapan muncul upaya penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Menjadikan materi IPA di SMP secara terpadu seperti yang digariskan oleh Kurikulum KTSP semata untuk merespon pertanyaan kritis mengenai materi IPA sebelumnya. Sehingga, materi IPA kurikulum KTSP untuk SMP didesain untuk menjawab persoalan-persoalan pada masalah-masalah yang umum.

Implementasi Kurikulum Kimia dalam Pengajaran

Dalam menerapkan kurikulum kimia di tingkat SMP ini belum ada kesesuaian dengan apa yang diharapkan sebagimana yang terdapat dalam kurikulum KTSP. Dalam sistem pendidikan nasional secara nyata sampai saat ini belum melahirkan secara khusus guru IPA, melainkan menghasilkan guru biologi, kimia, dan fisika. Untuk itulah IPA di SMP diajarkan secara terpisah sekaligus mengakomodasi keberadaan guru biologi dan fisika. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran IPA dengan situasi lebih alami dan situasi dunia nyata, serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang IPA dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Pembelajaran IPA terpadu merupakan pembelajaran bermakna yang memungkinkan siswa menerapkan konsep-konsep IPA dan berpikir tingkat tinggi dan memungkinkan mendorong siswa peduli dan tanggap terhadap lingkungan dan budaya.
Meskipun belum ada guru khusus bidang IPA guru-guru bidang studi harus saling berkomunikasi antara guru bidang studi yang satu dengan yang lainnya. Sehingga akan didapatkan materi IPA yang terpadu. Tapi apa yang terlihat dalam kenyataan pembelajaran. Guru menjelaskan materi masing-masing tanpa mengaitkan dengan mata pelajaran yang lain. Hal ini membuktikan bahwa implementasi kurikulum kimia belum ada kesesuaian dengan apa yang di harapkan.



BAB III
PENUTUP

Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Kimia merupakan salah satu aspek yang tergabung dalam bidang IPA yang mengkaji berbagai fenomena atau gejala baik makhluk hidup ataupun benda tak hidup yang ada di alam semesta. Untuk mengikuti perubahan zaman yang semakin modern ini Indonesia juga mengalami perubahan kurikulum yang terjadi berkali-kali termasuk kurikulum kimia. Pertama kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum 1974 kemudian berpengaruh terhadap kurikulum 1984 dan kurikulum 1994 selanjutnya berubah menjadi kurikulum 2004 atau yang biasa disebut KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) kemudian pada tahun 2006 KBK telah disempurnakan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) hingga sekarang ini. Namun kenyataan yang terjadi dalam pembelajaran selama ini belum sesuai dengan kurikulum kimia yang terdapat dalam KTSP dan belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Hamalik,Oemar.2008.Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum.Bandung: Remaja Rosdakarya
Hamalik,Oemar.2003.Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: Bumi Aksara

Titrasi Oksidimetri

A. JUDUL : Titrasi Oksidimetri
B. TUJUAN : Membuat dan Menentukan (Standarisasi) Larutan Na2S2O3
C. DASAR TEORI
Diantara sekian banyak contoh teknik atau cara dalam analisis kuantitatif terdapat dua cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung dan tidak langsung. Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya). Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium thiosilfat standar atau asam arsenit) (Bassett, 1994).
Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji (Svehla, 1997).
Iodium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat (Day & Underwood, 1981).
Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Bassett, 1994).
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama sehingga boraks atau natrium seringkali ditambahkan sebagai pengawet.
Iodin mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetrationat
I2 + 2S2O32- → 2I- + S4O62-
Reaksinya berjalan cepat sampai selesai dan tidak ada reaksi sampingan. Berat ekivalen dari Na2­S2O3.5H2O adalah berat molekularnya 248,17 karena satu electron persatu molekul hilang. Jika pH dari larutan diatas 9 tiosulfat teroksidasi secara parsial menjadi sulfat.
4I2 + S2O32- + 5 H2O → 8 I - + 2SO42- + 10H+
Dalam larutan yang netral atau sedikit alkalin oksidasi menjadi sulfat tidak muncul , terutama jika Iodin dipergunakan sebagai titran. Banyak agen pengoksidasi kuat seperti garam permanganate,garam dikromat dan garam serium(IV) mengoksidasi tiosulfat menjadi sulfat ,namun reaksinya tidak kuantitatif.
Dalam standarisasi larutan-larutan tiosulfat sejumlah substansi dapat dipergunakan sebagai standar-standar primer untuk larutan-larutan tiosulfat. Iodn murni adalah standar yang paling jelas namun jarang digunakan karena kesulitan dalam penanganan dan penimbangan yang lebih sering dipergunakan adalah standar yang terbuat dari suatu agen pengoksidasi kuat yang akan membebaskan iodine dari iodide,sebuah iodometrik.
Kalium iodat dan kalium bromat megoksidasi iodide secara kuantitatif menjadi iodine dalam larutan asam.
IO3- + 5I + 6H+ → 3I 2 + 3H2O
BrO3- + 6 I- + 6H+ → 3 I2 + Br - + 3H2O
Reaksi iodatnya berjalan cukup cepat ,reaksi ini juga hanya membutuhkan sedikit kelebihan ion hydrogen untuk menyelesaikan reaksi. Reaksi bromat berjalan lebih lambat namun kecepatannya dapat ditingkatkan dengan menaikkan konsentrasi ion hydrogen biasanya sejumlah kecil ammonium molibda ditambah sebagai katalis.
Kerugian utama dari kedua garam ini sebagai standar primer adalah bahwa berat ekivalen mereka kecil. Dalam setiap kasus berat ekivalen adalah seperenam dari berat molecular dimana berat ekivalen KIO3 adalah 35,67 dan KBrO3 adalah 27,84 untuk menghindari kesalahan yang besar dalam menimbang,petunjuk-petunjuk biasa mensyaratkan penimbangan sebuah sample yang besar pengenceran di dalam labu volumetric dan menarik mundur alikuot. Garam kalium asam iodat ,KIO3 ,­ HIO3 dapat juga dipergunakan sebagai standar primer namun berat ekivalennya juga kecil seperduabelas dari berat molekulrnya atau 32,49.
Iodium dapat digunakan untuk oksidator maupun reduktor. I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relative merupakan reduktor lemah. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukan triodida(KI3)
I2 + 2e → 2I –
Iodium dapat dimurnikan dengan sublimasi ia larut dalam larutan KI harus disimpan pada tempat yang dingin dan gelap . berkurangnya iodium dan akibat penguapan dan oksidsi udara menyebabkan banyak kesalahan dalm analisis dapat distandarisasi dengan Na2S2O3.5H2O yang lebih dahulu distandarisasi dengan senyawa lain.
Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/amilum. Iodida pada konsentrasi < 10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2002).

Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberikan warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Day & Underwood, 1981).
Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral maupun asam dititrasi dengan natrium thiosulfat maka:
I3- + 2S2O32 - → 3I- + S4O62-
Selama reaksi zat antara S2O32- yang tidak berwarna adalah terbentuk sebagai
S2O32- + I3- → S2O3I- + 2I-
Yang mana berjalan terus menjadi:
S2O3I- + S2O32 - → S4O62- +I3-
Reaksi berlangsung baik dibawah pH = 5,0 (Khopkar, 2002).
Jika suatu zat pengoksid kuat diolah dalam larutan netral atau (lebih biasa) larutan asam, dengan ion iodida yang sangat berlebih, yang terakhir bereaksi sebagai zat prereduksi, dan oksidan akan direduksi secara kuantitatif. Dalam hal-hal yang demikian, sejumlah iod yang ekivalen akan dibebaskan, lalu dititrasi dengan larutan standar suatu zat pereduksi, biasanya natrium thiosulfat (Bassett, 1994).
Potensial reduksi dari zat-zat tertentu naik banyak sekali dengan naiknya konsentrasi ion-hidrogen dari larutan. Inilah halnya dalam sistem-sistem yang mengandung permanganat, dikromat, arsenat, antimonat, borat dan sebagainya yakni, dengan anion-anion yang mengandung oksigen dan karenanya memerlukan hidrogen untuk reduksi lengkap. Banyak anion pengoksid yang lemah direduksi lengkap oleh ion iodida, jika potensial reduksi merekanaik banyak sekali karena adanya jumlah besar asam dalam larutan (Bassett, 1994).
Dua sumber sesatan yang penting dalam titrasi yang melibatkan iod adalah:
1. Kehilangan iod yang disebabkan oleh sifat mudah menguapnya yang cukup berarti
2. Larutan iodida yang asam dioksidasi oleh oksigen di udara:
4I- + O2 + 4H+ → 2I2 + 2H2O
Reaksi diatas lambat dalam larutan netral tetapi lebih cepat dalam larutan berasam dan dipercepat oleh cahaya matahari. Setelah penambahan kalium iodida pada larutan berasam dari suatu pereaksi oksidasi, larutan harus tidak dibiarkan untuk waktu yang lama berhubungan dengan udara, karena iodium tambahan akan terbentuk oleh reaksi yang terdahulu. Nitrit harus tidak ada, karena akan direduksi oleh ion iodida menjadi nitrogen (II) oksida yang selanjutnya dioksidasi kembali menjadi nitrit oleh oksigen dari udara:
2HNO2 + 2H+ + 2I- → 2NO + I2 + 2H2O
4NO + O2 + 2H2O → 4HNO2
Kalium iodida harus bebas iodat karena kedua zat ini bereaksi dalam larutan berasam untuk membebaskan iodium:
IO3- + 5I- + 6H+ → 3I2 + 3H2O
(Day & Underwood, 1981).

D. ALAT DAN BAHAN
Alat :
Labu ukur 100 mL
Pipet gondok 10 mL
Erlenmeyer 250 mL
Pipet tetes
Buret

Bahan :
Larutan KIO3 sebagai larutan baku
Air suling
Larutan Na2S2O3 ± 0,1 N
KI 20%
HCl 4 N
larutan kanji
Larutan H2SO4
Amonium molibdat 3%
Pemutih (bayclin sebagai aplikasinya)

E. CARA PELAKSANAAN :
Penentuan (standarisasi) larutan Na2S2O3 ± 0,1 Dan
Pembuatan larutan KIO3 sebagai larutan baku
Timbang 0,1 Dan KIO3 sebanyak 0,37 gr dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Larutkan dengan air suling dan encerkan sampai tanda batas. Kocok dengan baik agar tercampur sempurna.
Penentuan (standarisasi) larutan Na2S2O3 ± 0,1 N dengan KIO3
Bilas dan isi buret dengan larutan Na2S2O3 ± 0,1 N. Pipet dengan pipet seukuran (pipet gondok) 10 mL larutan KIO3 ± 0,1 N, masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Tambahkan 4 mL KI 20% dan 1 mL HCl 4 N. Iod yang dibebaskan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat sampai warna menjadi kuning muda, kemudian ditambahkan kanji dan dititrasi terus sampai warna biru hilang. Baca dan catat angka pada buret saat awal dan akhir titrsi, tentukan dan catat volume larutan natrium tiosulfat yang digunakan dalam titrasi. Hitung konsentrasi larutan natium tiosulfaat.
Ulangi titrasi sampai 3 kali menggunakan volumelarutan natrium tiosulafat yang sama. Hitung konsentrasi lautan natrium tiosulfat rata-rata.
Aplikasi menggunakan pemutih (bayclin)
1. Pembuatan larutan KIO3 sebagai larutan baku
Timbang 0,1 Dan KIO3 sebanyak 0,37 gr dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Larutkan dengan air suling dan encerkan sampai tanda batas. Kocok dengan baik agar tercampur sempurna.
2. Penentuan (standarisasi) pemutih (bayclin) dengan KIO3
Bilas dan isi buret dengan larutan Na2S2O3 ± 0,1 N. Pipet dengan pipet tetes sebanyak 2 mL, masukkan dalam Erlenmeyer dan tambah 75 mL air suling, ditambah 0,3 gr KI, tambah 2 mL H2SO4 1:6 dan tambah 3 tetes ammonium molibdat 3%. Iod yang dibebaskan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat sampai warna menjadi kuning muda, kemudian ditambahkan kanji dan dititrasi terus sampai warna biru hilang. Baca dan catat angka pada buret saat awal dan akhir titrsi, tentukan dan catat volume larutan natrium tiosulfat yang digunakan dalam titrasi. Hitung konsentrasi larutan natium tiosulfaat.
Ulangi titrasi sampai 3 kali menggunakan volumelarutan natrium tiosulafat yang sama. Hitung konsentrasi lautan natrium tiosulfat rata-rata.

F. ANALISIS DATA
1. Pembuatan Larutan KIO3
Sebanyak 0,37 gram KIO3 dalam bentuk serbuk putih dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL kemudian ditambah air suling(aquades) tidak berwarna dikocok hingga larut sempurna kemudian ditambahkan air lagi hingga tanda batas maka diperoleh 100 mL larutan KIO3 tidak berwarna 0,0172M atau kalau dibulatkan sekitar 0,02 M.

Standarisasi Larutan Na2S2O3 dengan Larutan KIO3
Dari 100 mL larutan KIO3 tidak berwarna yng telah dibuat diambil 10 mL dengan menggunakan pipet seukuran (pipet gondok) dimasukkan ke dalam Erlenmeyer kemudian ditambah

4 mL KI 20% tidak berwarna kemudian ditambah lagi dengan 1 mL HCl 4N tidak berwarna penambahan ini bertujuan untuk menjadikan suasana asam. Dari penambahan-penambahan yang dilakukan dihasilkan larutan berwarna coklat kekuningan kemudian larutan ini dititrasi dengan larutan Na2S2O3 tidak berwarna hingga larutan berwarna kuning muda. Setelah menjadi kuning muda larutan ditambah dengan 4 tetes larutan kanji tidak berwarna maka larutan berubah warna menjadi biru hal ini menunjukkan bahwa didalam larutan terdapat I2 dan larutan kanji ini berfungsi sebagai indicator. Kemudian titrasi dilanjutkan lagihingga warna biru tepat hilang hal ini menunjukkan bahwa didalam larutan tidak terdapat lagi I2 melainkan telah menjadi I­- . percobaan ini dilakukan sampai tiga kali dengan diperoleh data volum Na2S­2O3 yang digunakan sebagai berikut:
V1 = 7,2 mL , V2 = 7,1 mL , V3 = 7,0 mL. sehingga perhitungannya sbb
Persamaan reaksinya:
2 IO3- + 12 H+ + 10 e → I 2 + 6 H2O x 1
2 I - → I2 + 2e x 5
2 IO3- + 12 H+ + 10 I-- → 6 I2 + 6 H2O
I2 + 2e → 2I-
2 S2O3 2 - → 2e + S4O62-
2S2O32- + I2 → S4O62- + 2 I -
Massa KIO3 yang digunakan adalah 0,37 gram , Mr = 214,0042 dan n = 6
N KIO3 = gram . n
Mr . V
= 0,37 x 6
214,0042 . 0,1
= 0,1037 N
Pada percobaan pertama
mKIO­3 = 0, 37 gram
V Na2S2O4 = 7,2 mL
molek KIO3 = molek Na2S2O3
N1 . V1 = N 2 . V2
0,1037 . 10 = N2 . 7,2
N Na 2 S 2O 3 = 0,1440 N
Pada percobaan kedua
mKIO3 = 0,37 gram
V Na2S2O4 = 7,1 mL
molek KIO3 = molek Na2S2O3
0,1037 . 10 = N2 . 7,1
N Na 2 S 2O 3 = 0,1460 N

Pada percobaan ketiga
mKIO3 = 0,37 gram
V Na2S2O4 = 7,0 mL
molek KIO3 = molek Na2S2O3
N1 . V1 = N 2 . V2
0,1037 . 10 = N2 . 7,0
N Na 2 S 2O 3 = 0,1481 N
Jadi N rata – rata Na2S2O3 yang diperoleh dari ketiga percobaan ini adalah 0,146 N. Normalitas yang dihasilkan ini digunakan untuk mencari data pada percobaan berikutnya.

Aplikasi Titrasi Iodometri Dengan menentukan kadar Cl2 pada pemutih(bayclin)
Dengan mengukur berat jenis pemutih (bayclin) diperoleh massa pikno 20 gram dan massa kotor pemutih 75 gram sehingga massa pemutih adalah 55 gram dengan volum 50 mL sehingga diperoleh berat jenis pemutih sebesar 1,1 gram/mL. kemudian dari 50 mL diambil 2 mL dari pemutih (tidak berwarna) dan dimasukkan kedalam erlenmeyer lalu ditambah aquades 75 mL agar tidak terlalu pekat kemudian ditambah 0,3 gram KI berupa serbuk putih sehingga dihasilkan larutan berwarna coklat kekuningan kemudian ditambah lagi lagi dengan 2 mL H2SO4(tidak berwarna) dengan tujuan untuk menjadikan suasana asam serta ditambahkan juga dengan 3 tetes Amonium molibdat 3% (tidak berwarna) sebagai katalis untuk mempercepat reaksi. Dari penambahan-penambahan yang dilakukan ini diperoleh larutan berwarna coklat tua dan terdapat endapan. Kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 tidak berwarna sampai larutan berwarna kuning muda dan endapan menghilang. Setelah menjadi kuning muda larutan ditambah dengan 5 mL larutan kanji tidak berwarna maka larutan berubah warna menjadi ungu kehitaman hal ini menunjukkan bahwa didalam larutan terdapat I2 dan larutan kanji ini berfungsi sebagai indicator. Kemudian titrasi dilanjutkan lagi hingga warna ungu kehitaman tepat hilang hal ini menunjukkan bahwa didalam larutan tidak terdapat lagi I2 melainkan telah menjadi I­- . percobaan ini dilakukan sampai tiga kali dengan diperoleh data volum Na2S­2O3 yang digunakan sebagai berikut:
V1 = 16,6 mL , V2 = 19,7 mL , V3 = 17,7 mL. sehingga perhitungannya sbb:
Cl2 + 2 I - → 2Cl - + I2
I 2 + 2 S2O32 - → S4O 62 - + 2 I-
Pada percobaan pertama
massa sampel = V x ρ
= 2 x 1,1
= 2,2 gram

molek Na2S2O3 = molek Cl2
N. V = molek Cl2
0,146 x 16,6 = molek Cl2
2,4236 x 10-3 = molek Cl2
Sehingga massa Cl2 = molek Cl2 . BE
= 0,0024 x 35,5
1
= 0,0852 gram
% massa Cl2 = massa Cl2 x 100%
massa sampel
= 0,0852 x 100%
2,2
= 3,8727 %
= 3,88 %


Pada percobaan Kedua
massa sampel = V x ρ
= 2 mL x 1,1 gram/mL
= 2,2 gram

molek Na2S2O3 = molek Cl2
N. V = molek Cl2
0,146 x 19,7 = molek Cl2
2,8762 x 10-3 = molek Cl2
Sehingga massa Cl2 = molek Cl2 . BE
= 0,0029 x 35,5
1
= 0,1029 gram
% massa Cl2 = massa Cl2 x 100%
massa sampel
= 0,1029 x 100%
2,2
= 4,6772 %
= 4,68 %

Pada percobaan Ketiga
massa sampel = V x ρ
= 2 mL x 1,1 gram/mL
= 2,2 gram
molek Na2S2O3 = molek Cl2
N. V = molek Cl2
0,146 x 17,7 = molek Cl2
2,5842 x 10-3 = molek Cl2
Sehingga massa Cl2 = molek Cl2 . BE
= 0,0026 x 35,5
1
= 0,0923 gram

% massa Cl2 = massa Cl2 x 100%
massa sampel
= 0,0923 x 100%
2,2
= 4,1954 %
= 4,19 %
Jadi kadar rata-rata Cl2 dalam sampel pada percobaan ini adalah sekitar 4,25 %

Perhitungan kesalahannya adalah:
Kesalahan % = (∆ X/Xrata-rata) x 100%
Diketahui : X maks = 4,68 % = 0,0468
X min = 3,88 % = 0,0388

Penyelesaian :
∆X = (Xmaks – Xmin)/2
= (0,0468-0,0388)/2
= 0,008/2 = 0,004
X rata-rata = (Xmaks + Xmin)/2
= (0,0468 + 0,0388)/2
= 0,0428
Kesalahan% =(0,004/0,0428) x 100%
= 9,3458 %
= 9,36 %

DISKUSI
1. Untuk menentukan titik akhir suatu titrasi harus dilakukan secara cermat dan teliti , kelebihan larutan Na2S2O3 sedikit saja saat titik akhir sudah tercapai akan membuat larutan Erlenmeyer tidak berwarna padahal seharusnya berwarna kuning muda dan sebaliknya apabila larutan Na2S2O3 masih kurang maka warna kuning yang diinginkan tidsk sesuai karena warnanya kurang muda(terlalu pekat), sehingga akan berpengaruh terhadap hasil perhitungan untuk menentukan normalitas Na2S2O3. Titik akhir titrasi tidak jauh berbeda dengan titik ekivalennya, namun karena faktor keterbatasan indera penglihatan membuat titik akhir titrasi tidak tepat dengan titik ekivalennya.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Nilai normalitas sebagai larutan baku adalah 0,1037 N, sedangkan nilai normalitas larutan Na2S2O3 rata-rata adalah 0,146 N
2. Untuk aplikasi iodometri yaitu penentuan kadar ­Cl2 dalam pemutih(bayclin) diperoleh kadar rata-rata ­ sebesar 4,25 %

Jumat, 30 Oktober 2009

Analisis kation anion

A . Judul : Analisis Kation dan Anion
B. Tujuan : 1. Menentukan kation yang terdapat dalam suatu analit.
2. Menentukan anion yang terdapat dalam suatu analit.
C. Landasan Teori

Analisa kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam metode analisis kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk mengetahui jenis anion atau kation suatu larutan. Dalam analisa anion atau kation berupa larutan dapat langsung dianalisis, tetapi apabila berupa zat padat atau campuran padat dan cair, perlu dicari pelarut yang sesuai.
Analisis kation
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan menggunakan reagensia , dapat ditentukan ada tidaknya golongan-golongan kation dan juga memisahkan golongan-golongan ini untuk pemeriksaan lebih lanjuat.
Berikut ini adalah kelima golongan kation dan cirri khas golongan dari masing-masing golongan tersebut berdasarkan system H2S :

Golongan I
Disebut juga golongan perak. Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida. Ion-ion golongan ini adalah timbel (Pb2+), merkurium (I) (raksa) (Hg22+ ), perak (Ag+). Pada reaksi ini digunakan larutan dingin untuk memaksimalkan penendapan.

Golongan II
Disebut juga golongan sulfide. Reagensia golongan ini adalah hydrogen sulfide (H2S) dengan konsentrasi ion sulfide dikontrol dengan mengatur konsentrasi H+ (dalam suasana asam). Reaksi dalam golongan ini menyebabkan endapan-endapan dengan berbagai warna. Berikut ini adalah ion-ion golongan II, beserta warna endapan-endapan yang ditmbulkan,


Nama ion Warna endapan
HgS Hitam
PbS Hitam
CuS Hitam
CdS Kuning
Bi2S3 Coklat
As2S3 Kuning
Sb2S3 Kuning
Sb2S5 Jingga
SnS Coklat
SnS2 kuning


Golongan III
Dalam memasuki reaksi golongan III ini, larutan terlebih dulu didihkan untuk menghilangkan gas H2S. Reagensia pada golongan ini adalah ammonia dan ammonium klorida, atau larutan ammonium sulfide. Penambahan ammonia-amonium klorida, dimaksudkan untuk memciptakan suasana basa . Dalam ammonia-amonium klorida Fe, Al, Cr, dan Mn diendapkan dalam bentuk hidroksida (disebut golongan IIIA), sedangkan logam-logam yang lain dari golongan ini diendapkan dalam bentuk sulfide (disebut golongan IIIB).

Golongan IV
Disebut juga golongan kalsium. Reagen yang digunakan dalam golongan ini adalah ammonium karbonat. Kation-kation golongan IV ini, tidak bereaksi dengan asam klorida, hydrogen sulfide, ataupun ammonium sulfide. Uji ini dijalankan dalam larutan netral atau basa. Jika tak ada ammonia atau ion ammonium, magenesium akan ikut mengendap. Endapan-endapan putih yang terbentuk dengan reagensia golongan adalah barium karbonat (BaCO3), stronsium karbonat (SrCO3), dan kalsium karbonat (CaCO3). Sifat senyawa klorida, sulfide, dan hidroksida dari logam-logam golongan IV bersifat larut sehingga bisa dipisahkan dari golongan sebelumnya dan diendapkan sebagai karbonat dengan adanya buffer ammonia-amonium klorida.

Golongan V
Kation pada golongan V ini, tidak bereaksi dengan HCl, H2S, NH4S, atau (NH4)2CO3. Untuk itu, kation pada golonga ini dapat dikatakan golongan sisa, setelah dilakukan pemisahan secara berurutan. Senyawa kation golongan V, memiliki derajat kelarutan yang sangat tinggi sehingga untuk melakukan identifikasi tidak cukup diterapkan dengan satu pereaksi yang spesifik. Pengujian kation dalam golongan ini, dilakukan dengan mengamati warna pada proses uji nyala (untuk kation Ca2+, Ba2+, Sr2+, Na+, K+) dan dengan mengambil dari larutan analit mula-mula (untuk kation NH4+).

Analisis anion
Metode yang digunakan untuk mendeteksi anion tidak se-sistematis metode yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan kation. Analisis anion dapat dilakukan dengan mengamati perubahan spesifik dari suatu analit meliputi perubahan warna, keberadaan gas, maupun baunya. Sebelum menentukan adanya anion dalam suatu analit, perlu membuat larutan persiapan yang diolah dengan Na2CO3 jenuh. Penambahan Na2CO3, untuk menghilangkan logam-logam berat. Dengan begitu, logam-logam berat terlarutkan sebagai garam karbonat dan anionnya terlarut sebagai garam natrium yang mudah larut dalam air.
Untuk anion dikelompokkan kedalam beberapa kelas diantaranya:

* Anion sederhana seperti : O2-, F-, CN- .

* Anion okso diskret seperti : NO3-, atau SO42-.

* Anion polimer okso seperti silikat, borat, atau fosfat terkondensasi

* Anion kompleks halida seperti TaF6 dan kompleks anion yang berbasis bangat seperti oksalat.

D. Alat dan Bahan :
Alat :
· Gelas Kimia
· Pembakar spirtus
· Tabung Reaksi
· Pipet tetes
· Tabung Sentrifuge
· Alat sentrifuge
· Rak tabung Reaksi
· Pengaduk
· Kawat Kasa
· Kaki tiga
· Kertas Saring

· Penjepit Tabung
· Corong
Bahan :
· Analit
· HCl 6 M
· HCl encer
· Aquadest
· H2O2 3%
· H2S
· HNO3 pekat
· NH4Cl 20%
· NH3 encer
· HCl 1M
· NaOCl 1M
· NH4OH
· Dimetil glioksin

E. Cara Kerja

a. Langkah Kerja

1. Analisis Anion (NO3-)
Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan lalu memasukkan analit yang akan diteliti ke dalam tabung dan menambahkannya dengan Na2CO3 jenuh, kemudian menyaring endapannya sehingga menghasilkan filtrat (larutan persiapan). Kemudian menambahkan 3 tetes H2SO4 pekat ke dalam filtrat dan menambahkan FeSO4 jenuh secara perlahan-lahan melalui dinding tabung kemudian mengamati sampai terbentuk cincin coklat.

2. Analisis Kation ( Ni3+ )
Pertama menyiapkan alat dan bahan lalu memasukkan analit yang akan diteliti ke dalam tabung dan menambahkannya dengan HCl encer 6 M, kemudian menyentrifugenya. Karena tidak ada endapan melanjutkan dengan menambahkan 4 tetes H2O2 3 % lalu menambahkannya dengan HCl hingga konsentrasi H+ sekitar 0,3 M dengan cara mengeceknya dengan indikator universal, lalu memanaskannya dalam penangas air selama 3 menit kemudian mengalirkan gas H­2S ke dalamnya dan menyentrifugenya.
Karena tidak ada endapan lagi kemudian melanjutkannya dengan mendidihkannya,lalu menambahkannya dengan 3 tetes HNO3 pekat dan kemudian mendidihkannya lagi. Setelah itu menambahkan 0,25 mL NH4Cl 20 %, Memanaskannya dalam penangas air,menambahkan NH4 hingga basa,memanaskannya lagi selama 3 menit dan menyentrifugenya.
Karena tidak terbentuk endapan kemudian menambahkan 2 tetes NH3 encer lalu memanaskannya dalam penangas air dan mengalirkannya dengan gas H2S selama 1 menit dan menyentrifugenya sehingga terbentuk endapan hitam.
Memisahkan endapan tersebut dari filtratnya.lalu mengaduk endapan hitam dengan menambahkan 1 mL HCl 1 M dan menyentrifugenya lalu memisahkan endapan dari filtratnya lagi.
Kemudian menambahkan 13 tetes HCl encer dan 5 tetes NaOCl 1 M ke dalam endapan lalu mengaduknya di atas penangas air selama 2 menit kemudian mendidihkannya dan membaginya menjadi 2 bagian.salah satunya yang akan kita analisis untuk menemukan kation Ni3+ yaitu dengan cara menambahkannya dengan 1 tetes NH4Cl,NH4OH hingga basa dan 1 tetes dimetil glioksin sehinga dihasilkan endapan merah jambu dimana endapan ini menunjukkan adanya kation Ni3+ .



F. Data Pengamatan

Perlakuan Pengamatan
Sebelum Sesudah
1. Analisis anion
a. Analit ditambah 20 tetes Na2CO3 kemudian dipanaskan dan disaring
b. Filtrate (larutan persiapan) ditambah 3 tetes H2SO4 pekat, kemudian ditambah FeSO4 jenuh sebanyak 15 tetes.

Sebelum pengamatan
Analit berwarna hijau
Na2CO3 = tidak berwarna
H2SO4 = tidak berwarna
FeSO4 = kuning

Setelah pengamatan
Filtrate tidak berwarna
Terbentuk cincin berwarna coklat ( adanya NO3-)

2. Analisis kation
a. Analit ditambah HCl 6M sebanyak 5 tetes
b. Disentrifuge selama 10 menit
c. Larutan ditambah 4 tetes H2O2 3%, kemudian ditambah HCl sebanyak 3 tetes, dipanaskan dalam penangas air 2-3 menit, kemudian dialiri gas H2S ( hasil percampuran antara FeS + HCl), kemudian di sentrifuge
d. Larutan didihkan untuk menghilangkan H2S , kemudian ditambah 3 tetes HNO3 pekat, didihkan dan ditambah 10 tetes NH4Cl 20%, dipanaskan dalam penangas air, lalu ditambahkan HNO3 pekat sampai basa (± 7 tetes ), dipanaskan dalam penangas air kemudian disentrifuge.
e. Larutan ditambah 2 tetes NH3 encer. Dipanaskan dan dialiri H2S selama 1 menit, kemudian disentrifuge.
f. Endapan dan filtrate dipisahkan kemudian endapan ditambah 1 mL HCl 1M, kemudian disentrifuge.
g. Endapan dan filtrate dipisahkan. Endapan ditambah 13 tetes HCl encer, ditambah 5 tetes NaOCl, kemudian diaduk dalam penangas air selama 2 menit. Didihkan.
h. Larutan beserta endapan ditambah 1 tetes NH4Cl kemudian ditambah NH4OH hingga basa (=5 tetes), kemudian ditambah 2 tetes dimetil glioksin.

Sebelum pengamatan
Analit = hijau
HCl = tidak berwarna
Larutan hijau
H2O2 = tidak berwarna
HCl = tidak berwarna
FeS = hitam



Larutan berwarna hijau
HNO3 pekat = tidak berwarna
NH4Cl 20% = tidak berwarna

NH3 = tidak berwarna



Endapan = hitam
Filtrate = biru
HCl = tidak berwarna

Endapan = hitam
Filtrate = tidak berwarna
HCl encer = tidak berwarna
NaOCl = tidak berwarna



NH4Cl = tidak berwarna
Dimetil glioksin = tidak berwarna

Tidak ada endapan
Larutan berwarna hijau
Larutan

Tidak terbentuk endapan
Larutan tetap berwarna hijau



Larutan berwarna biru
Tidak ada endapan

Timbul endapan berwarna hitam.


Larutan tidak berwarna
Endapan berwarna hitam


Sebelum pengamatan: Larutan tidak berwarna
Endapan hitam
Setelah pengamatan : Endapan merah jambu, larutan berwarna merah jambu ( ada kation Ni3+)

G. Diskusi dan Pembahasan

1. Analisis anion
Pada analisis anion, ditemukan NO3- sebagai anion. Hasil tersebut didapatkan setelah analit yang berwarna hijau diencerkan dan direaksikan dengan Na2CO3 kemudian disaring sehingga dihasilkan filtrat yang tidak berwarna. Filtrat dari reaksi tersebut, dijadikan sebagai larutan persiapan. Dengan disesuakan teori yang ada, larutan penguji tersebut direaksikan dengan berbagai larutan. Dan ketika filtrat tersebut direaksikan dengan H2SO4 pekat tidak berwarna yang kemudian ditambahkan FeSO4 jenuh secara perlahan-lahan melalui mulut tabung maka terbentuk sebuah cincin yang berwarna coklat. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa analit tersebut mengandung anion NO3-.
2. Analisis kation
Pada analisis kation ini membutuhkan metode yang sangat sistematik. Tidak seperti anion, yang merupakan hasil pengujian larutan persiapan dengan berbagai larutan hingga mendapatkan endapan yang sesuai dengan kriteria masing-masing anion. Analisis kation ini, diawali dengan penambahan HCl 6M pada analit. Dari penambahan ini, tidak ada perubahan sama sekali. Tidak terbentuk endapan sekalipun telah disentrifuge. Hal ini menandakan analit bukan golongan I sehingga reaksi harus dilanjutkan hingga terbentuk endapan. Untuk itu, reaksi dilanjutkan ke golongan II. Pada golongan ini, mula-mula larutan tersebut ditambah dengan H2O2 3 % yang telah diatur sedemikian rupa hingga berada dalam kondisi asam. Pengujian pada golongan II ini menggunakan gas H2S yang dialirkan kedalam larutan. Sebelumnya larutan telah dipanaskan dalam penangas air selama 2-3 menit. Setelah pengaliran H2S dan disentrifuge, tidak ditemukan endapan hal ini membuktikan bahwa analit juga bukan golongan II sehingga Reaksi dilanjutkan. Memasuki golongan III. Pada golongan ini. mula-mula larutan didihkan untuk menghilangkan gas H2S (hasil pereaksian FeS + HCl) yang masih tersisa dari golongan II. Kemudian ditambahkan 3 tetes HNO3 pekat. Dan didihkan, kemudian ditamba dengan 1 tetes NH4Cl 20%. Larutan tersebut dipanaskan dalam penangas air. Setelah dipanaskan ditambah dengan NH3 pekat hingga mencapau kondisi basa. Kemudian dipanaskan dalam penangas air selam 2-3 menit. Dari berbagai perlakuan tersebut, tidak ditemukan adanya endapan sekalipun telah disentrifuge. Hal ini menandakan bahwa analit tersebut tidak diendapkan dalam bentuk hidroksida dan membuktikan bahwa analit bukan golongan IIIA. Untuk itu, reaksi dilanjutkan ke dalam golongan IIIB. Perlakuan yang dilakukan dalam golongan ini. adalah dengan menambahkan 2 tetes NH3 encer, yang kemudian dipanaskan. Dari perlakuan tersebut diperoleh larutan berwarna biru. Langkah selanjutnya adalah dengan mengaliri larutan tersebut dengan gas H2S. Perlakuan ini, menimbulakan endapan hitam. Sehingga analit tersebut dapat dikatakan sebagai analit dengan kation golongan IIIB. Analit ini diendapkan dalam bentuk sulfide antara CoS, NiS, MnS, atau ZnS. Proses selanjutnya adalah analisis golongan IIIB. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan mengaduk dan menambahkan HCL 1M sebanyak 1mL, kemudian disentrifuge. Pada proses ini endapan tetap nampak hitam dan warna larutan menjadi hilang (tak berwarna). Berdasarkan hasil ini dapat disinyalir larutan tersebut CoS atau NiS. untuk menentukan apakah larutan tersebut CoS ataukah NiS maka dilakukan pengujian dengan menambahkan 13 tetes HCl encer, ditambah 5 tetes NaOCl 1M. kemudian diaduk diatas penangas air selama 2 menit kemudian didihkan hingga Cl2 hilang. Dikarenakan tidak tersedia NH4SCN yang merupakan penguji dari kation Co di laboratorium. Sehingga pengujian hanya dilakukan pada kation Ni. Pengujian ini dilakukan dengan menambahkan 1 tetes NH4Cl, kemudian ditambah dengan NH4OH sampai pada kondisi basa, kemudian ditambah 3 tetes dimetil glioksin. Terbentuk larutan beserta endapan berwarna merah jambu yang menandakan bahwa analit tersebut mengandung kation Ni3+.
Pada pembuktian keberadaan kation Ni, terdapat sebuah masalah. Endapan merah jambu yang terbentuk, tidak terbentuk sekaligus. Ketika penambahan dimetil glioksin, larutan dengan segera membentuk warna merah jambu. Kejadian serupa tidak berlaku serupa pada endapannya. Endapan tersebut membutuhkan waktu beberapa saat (± 3 menit), untuk merubah warnanya dari hitam menjadi merah jambu. Hal ini dikarenakan pengubahan warna endapan memerlukan waktu lebih lama daripada pengubahan warna pada larutan.




H. Kesimpulan
1. Analit yang mengandung anion NO3- dapat ditunjukkan dengan terbentuknya cincin coklat Fe.
2 . Analit yang mengandung kation Ni3+ dapat ditunjukkan dengan adanya endapan merah jambu .

I . TUGAS / JAWABAN PERTANYAAN
Tuliskan reaksi umum untuk masing-masing golongan!
Jawab:
· Golongan I: M+ + Cl- à MCl(s) (putih)
· Golongan II: M2+ + S2- à MS(s)
Warna endapannya tergantung masing-masing kationnya, yaitu HgS, Bi2S3, CuS yang berwarna hitam, CdS, As2S3, SnS2 berwarna kuning, dan Sb2S3, Sb2S5 warna merah.
Pengendapan dilakukan pada larutan dengan suasananya asam (H2S yang mengandung HCl encer).
· Golongan III A: M3+ + NH3 + H2O à M(OH)3(s) +
Warna endapan tergantung pada masing-masing kation, yakni Fe(OH)3, Al(OH)3, yang berwarna putih, Cr(OH)3 warna abu-abu kehijauan.
· Golongan III B:
Warna endapan tergantung pada masing-masing kation, yakni NiS, CoS, warna hitam, MnS warna merah jambu, dan ZnS warna putih.
Pengendapan terjadi pada larutan yang suasananya basa (H2S yang mengandung larutan NH3 dan NH4Cl)
· Golangan IV : M2+ + CO2+ à MCO3(s) (putih)
· Golongan V
Pada golongan V, tidak ada reagensia umum, sehingga digunakan reaksi khusus uji kering untuk mengidentifikasi ion-ionnya. Uji kering itu antara lain, uji pipa tiup, uji pewarnaan, uji nyala dan lain sebagainya.

Mengapa oksidator yang digunakan dalam analisis kation secara sistem H2S adalah H2O2 atau brom, dan bukan HNO3?
Jawab:
Oksidator yang digunakan dalam analisis kation secara sistem H2S adalah H2O2 atau brom sebab H2O2 mudah menguap jika ditambahkan air sehingga didapat endapan garam sulfida dari H2S. Dan bukan menggunakan oksidator HNO3 sebab semua asam harus dihilangkan sehingga endapan garam sulfida tidak akan terbentuk, karena gas H2S dialirkan dalam analit dalam suasana asam.

Bagaimana cara mengetahui bahwa H2S, H2O2, atau Br2 sudah tidak terdapat di dalam larutan?
Jawab:
Untuk mengetahui H2S sudah tidak terdapat di dalam larutan, digunakan kertas Pb-Asetat.
Untuk mengetahui H2O2 sudah tidak terdapat di dalam larutan, caranya kertas saring dicelupkan pada HCl, kemudian dihadapkan pada lubang selang yang disalurkan ke H2O2. Jika pada kertas saring tidak ada noda hitam, maka H2O2 tidak ada.
ntuk mengetahui Br2 sudah tidak terdapat di dalam larutan, melalui cara larutan diuapkan. Asap yang keluar diletakkan pada kertas kanji yang basah. Jika kertas kanji basah menjadi merah jingga, maka Br2 masih ada, tapi jika berwarna jingga maka Br2 sudah tidak ada.

Mengapa menentukan adanya kation NH4+ harus digunakan analitnya langsung?
Jawab:Filtrat golongan IV sudah mengandung ion NH4+ yang ditambahkan pada pemisahan golongan sebelumnya, sehingga menentukan adanya kation NH4+ harus digunakan analitnya langsung.

Bagaimana reaksinya secara umum pada pembuatan larutan persiapan untuk menentukan adanya anion?
Jawab:
Jika sampel yang tidak diketahui tersebut adalah garam dari logam bivalen M dan suatu asam HA, maka reaksi yang terjadi adalah:
MA2 + CO32- ó MCO3¯ + 2A-
Ion-ion natrium akan menyertai anion A- dalam larutan tersebut.

Pengendapan garam sulfida pada analisis kation golongan II dan golongan III B dilakukan pada suasana larutan yang berbeda. Jelaskan!
Jawab:
Pengendapan garam sulfida pada analisis kation golongan II dan golongan III B dilakukan pada suasana larutan yang berbeda, sebab pada golongan II, pengendapan garam sulfidanya dilakukan dalam suasana asam, yakni dalam H2S yang mengandung HCl encer. Hal ini dikarenakan filtrat yang digunakan untuk mendapatkan endapan garam sulfida tadi berasal dari filtrat golongan I yang masih mengandung HCl encer. Pada golongan III B, pengendapan garam sulfidanya dilakukan dalam suasana basa yaitu dalam H2S yang mengandung larutan NH3 dan NH4Cl. Hal ini karena filtrat yang digunakan untuk mendapatkan endapan garam sulfidanya tadi berasal dari filtrat golongan III A yang masih mengandung NH3 dan NH4Cl.

Mengapa pada pengendapan golongan IV harus dalam suasana basa?
Jawab:
Pengendapan golongan IV harus dalam suasana basa, sebab larutan amonia dalam air, NH4OH, yang ditambahkan sebelum filtrat diletakkan pada penangas air dapat mencegah hilangnya asam-asam yang mudah menguap sehingga akan dihasilkan garam-garam karbonat yang berasal dari larutan amonium karbonat. Oleh sebab itu, pengendapan golongan IV harus dalam suasana basa.

Selasa, 15 September 2009

GULA RENDAH KALORI

Aspartam merupakan pemanis buatan dari golongan gula non-sakarida yang banyak dipakai untuk produk-produk diet atau produk rendah kalori. Aspartam lebih manis sekitar 180-200 kali daripada gula biasa dengan konsentrasi yang sama. Artinya dengan menggunakan pemanis ini maka kita hanya memerlukan 1/200 kali lebih sedikit aspartam dibanding dengan menggunakan gula biasa.
Aspartam tak lain adalah metil ester dari dipeptida asam amino alami yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Aspartam ditemukan secara tidak sengaja oleh James Schlatter, seorang kimiawan G D Searle Co pada tahun 1965. Schlatter tanpa diduga telah mensintesis aspartame pada saat dia membuat obat anti pereda nyeri.Sintesis Aspartam
Terdapat 3 reagen yang diperlukan untuk sintesis aspartame yaitu, methanol, fenilalanin, dan asam aspartat. Bahan awal yang dibutuhkan untuk membuat aspartame adalah campuran rasemat dari fenilalanin, hanya L-fenilalanin yang akan digunakan untuk sintesis. Isomer L dan D dari fenilalanin dipisahkan dengan penambahan Ac2O dan NaOH, hasil reaksinya kemudian direaksikan dengan Porcine Kidney Acylase dan kemudian diekstraksi dengan pelarut organik diikuti dengan pengasaman. D-fenilalanin akan terdapat di fasa organik sedangkan L-fenilalanin akan terdapat pada fasa air.
Gugus asam L-fenilalanin kemudian diubah menjadi metil ester dengan menggunakan methanol dan HCl.
Terakhir mereaksikan metil ester fenilalanin dengan asam aspartat untuk menghasilkan struktur dipeptida. Tahap ini memerlukan beberapa tahap sebab gugus fungsi asam pada asam aspartat harus dilindungi agar tidak bereaksi, yang kita perlukan hanya satu dari dua gugus fungsi asam aspartat yang nantinya bereaksi dengan gugus fungsi amina pada metil ester fenilalanin.
Sifat Kimia Aspartam
Aspartam memiliki rumus kimia C14H18N2O5 dan berat molekul 294.31 Aspartam memiliki dua gugus fungsi yang bisa terionisasi dan keduanya ada pada bagian residu asam aspartat. Pada pH netral, aspartam ada dalam dua bentuk terionisasi. Aspartam stabil maksimal pada pH 4,3. Aspartam pada suhu kamar berbentuk bubuk putih yang tidak berbau dan titik leburnya 248-2500C.Mengapa Aspartam Disebut Gula Dengan 0 Kalori?
Agar kita mengetahui mengapa aspartam disebut gula 0 kalori maka marilah kita melakukan suatu perhitungan sederhana. Misalkan suatu produk minuman dengan kemasan botol 330 mL memerlukan gula biasa sebanyak 50 gram untuk mendapatkan tingkat kemanisan tertentu sesuai dengan standart minuman tersebut, maka dengan menggunakan aspartam kita hanya memerlukan: (kita menggunakan tingkat kemanisan aspartam 200 kali dari gula biasa)
Gram aspartame yang dibutuhkan:
= 1/200 x 50 g
= 0,25 g
Aspartam dimetabolisme dalam tubuh menjadi komponen penyusunnya yaitu asam aspartat, fenilalanin, dan methanol. Seperti halnya asam amino yang lain maka setiap gram asam amino dimetabolisme dalam tubuh dengan menghasilkan 4 kalori, karena kita memiliki 0,25 g aspartame maka:
Mol aspartame
= 0,25/294.31
= 8,5 x10-4 mol
Reaksi penguraian aspartame menjadi penyusunnya :
C14H18N2O5 + 3H2O +2H+ -> C4H7NO4 + C9H11NO2 + CH3OH + H2O
Perbandingan mol asam aspartat dan fenilalanin adalah 1:1 maka massa masing-masing asam amino ini adalah:
Asam aspartat
= 8,5 x10-4 mol x 133 = 0,11 g
Fenilalanin
= 8,5 x10-4 mol x 165 = 0,14 g
Kalori yang dihasilkan adalah:
= (0,11 g + 0,14 g ) x 4 = 1 kalori
Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa dengan mengkonsumsi minuman yang menggunakan aspartame sebagai pemanis maka kita hanya memperoleh 1 kalori saja. Hal ini sama saja dengan mengatakan kalorinya bisa diabaikan oleh sebab itulah maka aspatam bisa dipakai sebagai pengganti gula dengan 0 kalori.

Artikel


Cara Baru Atasi Obesitas dan Diabetes
Kata Kunci: diabetes, lemak coklat, myoblast, obesitas
Ditulis oleh Wikan Pribadi pada 21-08-2009

ls_brownfat Akhir-akhir ini, para peneliti telah menemukan cara untuk mengatasi obesitas dan diabetes, dua penyakit yang disebabkan karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang manis- manis atau yang mengandung glukosa. Dengan menggunakan lemak coklat yang berasal dari kulit untuk pembakaran kalori, maka setidaknya dapat mengurangi kalori yang berlebihan di dalam tubuh penderita obesitas.
Seperti yang dipublikasikan pada Nature Report tanggal 29 Juli, para peneliti tersebut mempublikasikan bahwa satu cara untuk mengatasi obesitas dan ketidakteraturan metabolisme seperti diabetes dengan cara membakar sekumpulan dari kalori pembakaran sel-sel lemak coklat.
Francesco Celi, seorang Endokrinologist di Institut Nasional Diabetes dan Digestive serta sakit ginjal di Bethesda, Maryland., mengatakan, "Jaringan lemak coklat datang di garis terdepan untuk mengatasi masalah obesitas karena dapat melakukan pembakaran kalori"
Dia juga menuturkan, penelitian mungkin saja mengungkap kemungkinan pengaktifan lemak coklat, namun tubuh juga bisa saja mencari cara untuk mengkompensasikan agar makan lebih banyak.
Seperti yang diketahui selama ini, lemak coklat digunakan untuk menghangatkan bayi saat baru lahir pada suhu dingin. Dengan temuan ini membuat peneliti berpikir bahwa untuk melawan kegemukan adalah dengan cara meningkatkan jumlah dan aktivitas dari penyimpanan lemak bewarna coklat dalam badan dewasa.
Awal penelitian dilakukan terhadap myoblast tikus. Myoblast merupakan sel-sel sebelum otot. Peneliti mengetahui bahwa satu protein bernama PRDM16 penting untuk memproduksi sel-sel lemak coklat. Peneliti mencangkok sebagian dari sel-sel hidup tikus. kemudian sel-sel lemak coklat membentuk gumpalan yang berbeda di lokasi injeksi, dekat hati/jantung tikus-tikus. Myoblasts ini membagi seperti biasanya. Tetapi ketika peneliti meningkatkan sejumlah protein keduanya, sel-sel dibagi untuk menciptakan pembakaran energi fungsional sel-sel lemak, selain dari pada menggandakan diri mereka.
"Menggunakan lemak coklat untuk membantu mengobati obesitas telah dibicarakan selama lebih dari 30-40 tahun. Tapi, biasanya orang akan menyerang. Banyak yang mengatakan lemak itu tidak dimiliki orang dewasa, yang lain menyebutkan lemak tersebut tidak memiliki hubungan dengan obesitas dan berat badan. Penelitian terakhir membuktikan, setiap manusia dewasa memiliki lemak coklat yang fungsional dalam tubuh," jelasnya.
Jadi, dengan pembuktian dari peneliti yang menyatakan bahwa obesitas dan diabetes dapat diatasi dengan menggunakan lemak coklat. Maka, tidak salahnya bagi Anda yang mempunyai penyakit obesitas ataupun diabetes dapat menggunakan cara yang telah dibuktikan oleh para peneliti tersebut.

Rabu, 09 September 2009

Tugas Kepustakaan Kimia

TUGAS KEPUSTAKAAN KIMIA

PENELUSURAN LITERATUR DAN DATA DARI INTERNET

Oleh :

Eka Nuryana

083194222

PK’08 B

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2009

PENELUSURAN LITERATUR DAN DATA DARI INTERNET

INFORMASI

Slide 1 : Menyatakan judul materi perkuliahan kepustakaan kimia.

Slide 2 : Berisi pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sebagai berikut:

1.a. Contoh literature Primer : Jurnal, Makalah Seminar, Laporan Penelitian, Skripsi, Tesis, Disertasi,Laporan Hasil Penelitian

b. Contoh Literatur Sekunder : Kamus, Ensiklopedia, Glosari, Buku/majalah Seri, Katalog Perpustakaan , Buku/majalah Indeks

2.a. Alamat Situs : http://www.google.com , http://www.yahoo.com

b. Alamat Direktori Internet : http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Internet

http://www.livinginternet.com/i/it_faq_history.htm

c. Alamat Mesin Pencari : www.google.com , www.excite.com

3. Jenis Protocol : HTTP,IP,TPC

4. Basis Data : Kumpulan informasi yang disimpan di dalam computer secara sistematika sehingga sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut.

5. Perbedaan antara www dan internet : world wide web adalah jaringan informasi global sedangkan internet merupakan jaringan komputer global.

Slide 3 : Menyatakan Bab pertama yaitu pendahuluan

Slide 4 : Berisi tentang alasan-alasan betapa pentingnya penelusuran lewat internet.

Slide 5 : berisi tentang pernyataan terjadinya ledakan informasi kimia yaitu >24 juta rujukan dan >32 juta senyawa kimia sehingga dibutuhkan ketrampilan penelusuran literature kimia dan bantuan teknologi informasi untuk mengelola dan menemukan informasi kimia yang begitu banyak sumbernya.

Slide 6 : menyatakan tentang Segitiga info keilmuan

Slide 7 : Berisi tentang Pengertian Literatur Primer dan literatur sekunder beserta contohnya.

Slide 8 : Berisi tentang contoh-contoh literature kimia

Slide 9 : Berisi tentang contoh-contoh literature kimia dari dunia maya atau internet

Slide 10 : Berisi tentang jenis-jenis atau Ragam Media.

Slide 11 : Berisi tantang penjelasan segitiga Info Keilmuan disertai dengan contoh

Slide 12 : Berisi tentang strategi –strategi untuk mengatasi / mengurangi kelemahan yang ada dalam setiap tingkat perkembangan dari segitiga keilmuan.

Slide 13 : Berisi judul bagi slide selanjutnya yaitu perlengkapan dasar untuk online literature searching.

Slide 14 : Berisi tentang contoh-contoh perlengkapan dasar disertai dengan pengertiannya.

Slide 15 : Berisi tentang berbagai bentuk format file

Slide 16 : Berisi tentang berbagai jenis-jenis plug-in dan contoh masing-masing

Slide 17 : Berisi judul yaitu TEKNOLOGI INFORMASI DAN INTERNET

Slide 18 : Berisi tentang hal-hal/cirri-ciri yang berhubungan dengan internet baik pengertian, nama maupun sejarah.

Slide 19 : Berisi tentang hal-hal/cirri-ciryang berhubungan dengan www(world wide web).

Slide 20 : Berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknologi basis data.

Slide 21 : Berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan teknologi Mailing list dan newsgroup.

Slide 22 : Berisi tentang judul bab Direktori Dan Mesin Pencari

Slide 23 : Berisis tentang pengertian direktori dan contoh portal

Slide 24 : Berisi tentang contoh alamat virtual library dan pengertian resources

Slide 25 : Berisi tentang berbagai virtual library beserta contoh alamatnya.

Slide 26 : Berisi tentang contoh alamat mesin pencari dan trik untuk mengggunakannya.

Slide 27 : Berisi tentang judul bab

Slide 28 : Berisi tentang struktur penyusunan artikel jurnal

Slide 29 : Berisi tentang contoh alamat pada online / electronic journals

Slide 30 : Berisi tentang Jenis artikel dan dasar pemuatannya.

Slide 31 : Berisi tentang judul bab

Slide 32 : Berisi tentang beberapa currents contens beserta alamatnya.

Slide 33 : Berisi tentang judul bab

Slide 34 : Berisi tentang pengertian paten dan lisensi

Slide 35 : Berisi tentang perbedaan paten Vs bentuk lain hak milik intelektual.

Slide 36 : Berisi tentang macam-macam bentuk lisensi

Slide 37 : Berisi tentang judul bab

Slide 38 : Berisi tentang beberapa contoh online database

Slide 39 : Berisi tentang judul bab

Slide 40 : Berisi tentang inisiatif penting yang pertama yaitu Gerakan Sistem Terbuka yang meliputi beberapa poin.

Slide 41 : Berisi tentang inisiatif penting yang kedua

Slide 42 : Berisi tentang judul bab mengenai pustaka

Slide 43 : Berisi tentang salah satu macam pustaka yaiitu pustaka tercetak beserta contoh

Slide 44 : Berisi tentang jenis pustaka yang kedua yaitu pustaka di internet dan syarat penggunaannya.

Slide 45 : Berisi tentang pernyataan kembali poin-poin yang ada di depan.

Slide 46 : Berisi tentang pemberian tugas-tugas

Slide 47 : Berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan email

Slide 48 : Berisi tentang informasi yang berhubungan dengan milis (mailing list)

Slide 49 : Berisi tentang beberapa eettika dalam menggunakan email

Slide 50 : Berisi tentang judul bab

Slide 51 : Berisi tentang beberapa ragam pendidikan

Slide 52 : Berisi tentang beberapa ragam ilmu

Slide 53 : Berisi tentang beberapa ragam penelitian kimia

Slide 54 : Berisi tentang contoh informasi lainnya.

Slide 55 : Berisi tentang judul makalah dalam pelatihan internet

Slide 56 : Berisi tentang beberapa contoh outline

Slide 57 : Berisi tentang beberapa servis internet beserta contoh alamatnya

Slide 58 : Berisi informasi tentang adanya ratusan cybermedia lokal di internet yang mempublish artikel

Slide 59 : Berisi tentang sumber informasi disertai contoh

Slide 60 : Berisi onformasi tentang adanya ribuan FTP Serveryang membawa banyak file

Slide 61 : Berisi tentang cara menggunakan FTP search engine

Slide 62 : Menunjukkan letak FTP file transfer facility

Slide 63 : Menunjukkan letak filee local di PC

Slide 64 : Menunjukkan cara untuk menyetting dial ke ISP

Slide 65 : Menunjukkan cara lanjutannya

Slide 66 : Menunjukkan cara membuka secure account email

Slide 67 : Berisi penjelasan tentang keterangan dari alamat email

Slide 68 : Berisi penjelasan tentang keterangan dari alamat email

Slide 69 : Berisi penjelasan tentang keterangan dari alamat email

Slide 70 : Berisi penjelasan tentang keterangan dari alamat email

Slide 71 : Berisi penjelasan tentang keterangan dari alamat email

Slide 72 : Berisi tentang pengertian web browser

Slide 73 : Berisi tentang cara login telnet

Slide 74 : Berisi tentang contoh email

Slide 75 : Menyatakan penjelasan dari contoh email

Slide 76 : Menyatakan penjelasan dari contoh email

Slide 78 : Berisi tentang account email

Slide 79 : Berisi tentang www browser/cara mencari informasi di internet

Slide 80 : Berisi tentang cara mencari informasi selanjutnya

Slide 81 : Menunjukkan lokasi informasi dlm bentuk URL

Slide 82 : Berisi tentang penjelasan dari lokasi URL

Slide 83 : Berisi tentang contoh alamat web

Slide 84 : Berisi tentang penjelasan dari alamat web

Slide 85 : Berisi tentang penjelasan dari alamat web

Slide 86 : Berisi tentang navigasi Informasi

Slide 87 : Berisi tentang beberapa contoh alamat search engine

Slide 88 : Berisi tentang contoh search google

Slide 89 : Berisi tentang operator search

Slide 90 : Menunjukkan letak memasukkan kata kunci

KATA-KATA SULIT

1. internet (kependekan dari interconnected-networking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian

2. Lisensi pengertiannya secara umumnya memberi ijin

3. Newsgroup adalah kelompok diskusi maya di internet

4. Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya

5. plug-in adalah sebuah program komputer yang menambah fungsionalitas sebuah program utama (suatu penjelajah web atau klien surat-e, sebagai contoh). Program utama biasanya memberikan semacam antarmuka (interface) agar plug-in dapat berinteraksi dengan program utama.

6. Protokol Internet (Inggris Internet Protocol disingkat IP) adalah protokol lapisan jaringan (network layer dalam OSI Reference Model) atau protokol lapisan internetwork (internetwork layer dalam DARPA Reference Model) yang digunakan oleh protokol TCP/IP untuk melakukan pengalamatan dan routing paket data antar host-host di jaringan komputer berbasis TCP/IP

7. Virtual Library(Pustaka Maya) adalah salah satu program pemerintah mengembangkan perpustakaan digital yang bersinergi antara Departemen Pendidikan Nasional dan Perpustakaan Nasional yang difasilitasi oleh Biro Perencanaan Kerja Sama Luar Negeri

8. Surat elektronik (disingkat ratel, ratron, surel, atau surat-e) atau surat digital atau pos elektronik (disingkat pos-el) atau nama umumnya dalam bahasa Inggris "e-mail atau email" (ejaan Indonesia: imel) adalah sarana kirim mengirim surat melalui jalur Internet.

9. World Wide Web ("WWW", atau singkatnya "Web") adalah suatu ruang informasi yang yang dipakai oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URI) untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya yang berguna.